Cover Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan
Thumbnail Galeri
Non Fiksi

Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan

Penulis: DEWI ANGGRAENI | Penerbit: Gramedia Group
Rp 99.000
Stok: 10 Eks β€’ Berat: 400 Gram β€’ Kondisi: Baru & Original
πŸ›‘οΈ 100% Produk Original
πŸ“¦ Packing Aman
🚚 Pengiriman Cepat
πŸ’¬ CS Respon Cepat

Sinopsis Buku

Kekejian ini termasuk perkosaan,telah menggugah tokoh tokoh masyarakat,pekerja kemanusiaan dan pembela HAM sedemikian rupa,sehingga mereka menggalang kekuatan untuk menyatakan protes,yang juga disampaikan kepada Presiden B.J.Habibie pada 15 juli 1998.Presiden menyatakan mengutuk kejahatan seksual tersebut dan menjanjikan perlindungan kepada semua warganegara. Pertemuan dengan Habibie juga menghasilkan janji didirikannya badan Independen, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ( Komnas Perempuan)dan dibentuk tim Gabungan Pencari Fakta atas Kerusuhan Mei 1998,namun sampai saat ini belum ada pelaku kejahatan kerusuhan Mei 1998 yang di bawa ke pengadilan. Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan, sebuah buku yang memotret peristiwa mei 1998 dan memaparkan dengan detail perjuangan para perempuan yang tak kenal lelah mengungkap kebenaran dan mengupayakan keadilan bagi korban hingga melahirkan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang dikenal sebagai Komnas Perempuan, diluncurkan hari ini, Rabu (14/5) di Function Room Gramedia Matraman. Peluncuran buku yang menjadi bagian dari kegiatan peringatan tragedi Mei 1998 ini selain dihadiri oleh penulis buku Dewi Anggraeni juga diisi dengan pemutaran film, pembacaan puisi dan testimoni oleh Richard Leonardi dari Kompas Gramedia yang ikut terlibat dalam penerbitan buku dan Andy Yentriyani Komisioner Komnas perempuan yang berbagi tentang kisah mereka ketika peristiwa Mei 1998 terjadi serta sambutan dari Komnas Perempuan yang diwakili oleh Andy Yentriyani. Dewi Anggraeni yang ketika peristiwa Mei 1998 terjadi menjadi koresponden Tempo di Australia menuturkan sewaktu mendengar kabar tentang pemerkosaan, ia tidak percaya, baginya hal itu terlalu kejam sehingga tidak mungkin terjadi. Hingga suatu hari seorang teman mempertemukannya dengan seorang korban yang dilarikan ke Melbourne dengan syarat dia tidak menemuinya sebagai seorang wartawan dan tidak menceritakan kisahnya. Perempuan tersebut bersedia menemuinya, ia tidak banyak berkata-kata, namun bercerita dengan jelas. Setelah pertemuan tersebut Dewi menyesal pernah meragukan adanya pemerkosaan pada perempuan Tionghoa pada peristiwa Mei 1998. Lebih lanjut Dewi mengungkapkan penelitian yang ia lakukan dalam penyusunan buku ini membuka pandangannya bahwa yang dijadikan sasaran dalam peristiwa Mei 1998 adalah warga etnis Tionghoa, namun bukan hanya warga etnis Tionghoa yang dikorbankan, warga dari kelas bawah terutama yang tidak mampu juga dimanfaatkan. Mereka dibujuk dan dihasut untuk menjarah dan setelah itu dikunci di dalam mal dan gedung yang sengaja dibakar. Mereka pun tidak mendapat simpati dari masyarakat dan disebut sebagai β€œpenjarah”. Bahkan hingga saat ini belum ada pelaku yang dibawa ke pengadilan.